Rabu, 30 Mei 2012 |
0
komentar
Platyhelminthes
Platyhelminthes berasal dari bahasa Yunani yaitu platy + helminthes ; platy = pipih, helminthes = cacing. Bila dibandingkan dengan Porifera dan Coelenterata, maka kedudukan phylum Platyhelminthes adalah lebih tinggi setingkat.
A. CIRI UMUM PLATYHELMINTHES
1. tubuh simetri bilateral dan pipih drosoventral
2. bentuk tubuh bervariasi ( pipih memanjang, pita, dan menyerupai daun )
3. ukuran tubuh bervariasi ( dari yang mikroskopis hingga berukuran panjang belasan meter )
4. berwarna putih atau tidak berwarna
5. ujung anterior tubuh berupa kepala
6. bagian ventral terdapat mulut dan lubang genital
7. ada organ yang menghasilkan sekresi ( alat cengkeraman dan alat penghisap ) yang bersifat perekat untuk menempel dan melekat.
B. MORFOLOGI DAN ANATOMI
1. bentuk tubuh pipih memanjang , seperti pita, dan seperti daun
2. panjang tubuh bervariasi
3. tubuh tertutup oleh lapisan epidermis bersilia yang tersusun oleh sel-sel sinsitium ; sementara pada Trematoda dan Cestoda parasit tidak memiliki epidermis bersilia dan tubuhnya tertutup oleh kutikula.
4. tidak memiliki kerangka luar dan dalam sehingga tubuh lunak
5. tidak mempunyai rongga tubuh ( Acelomata )
6. ruangan-ruangan di dalam tubuh yang ada di antara berbagai organ terisi dengan mesenkim yang disebut parenkim
7. sistem digesti sama sekali tidak ada pada Acoela dan cacing pita, tetapi pada cacing pipih yang lain mempunyai mulut, faring dan usus buntu.
8. tidak memiliki sistem respirasi dan sirkulasi
9. sistem ekskresi terdiri dari satu atau sepasang protonefridia dengan sel api
10. sistem saraf : primitif. Sistem saraf utama terdiri dari sepasang ganglia seebral atau otak dan 1-3 pasang tali saraf longitudinal yang dihubungkan satu dengan yang lain oleh komisura saraf tranversal. Tipe saraf seperti seperti ini disebut sistem saraf tangga tali. Organ-organ sensori umum dijumpai pada Turbellaria, tetapi pada hewan yang parasit organ tersebut mereduksi. Reseptor kimia dan peraba pada umumnya berbentuk lubang atau lekukan yang bersilia.
11. alat kelamin tidak terpisah ( hermaprodit )
C. FISIOLOGI
1. Cacing yang hidup bebas bergerak secara aktif, seperti Planaria. Hewan ini bergerak ke arah tempat yang teduh untuk menghindari terik matahari. Hewan ini bergerak dengan cara merayap dan meluncur.
à gerak merayap : tubuh cacing memanjang sebagai akibat dari kontraksi otot sirkular dan drosoventral. Kemudian bagian depan tubuh mencengkeram pada substrat dengan mukosa atau alat perekat khusus. Dengan mengkontraksikan otot-otot longitudinal, bagian tubuh belakang tertarik ke arah depan. Gerakan otot-otot obligus menyebabkan tubuh membelok.
à gerak meluncur : terjadi dengan bantuan silia yang ada pada bagian ventral tubuhnya dan zat lender yang dihasilkan oleh kelenjar lendir dari bagian tepi tubuh. Zat lendir itu merupakan “ jalur ” yang akan dilalui. Gerakan silia yang menyentuh jalur lendir menyebabkan hewan bergerak. Selama berjalan meluncur, gelombang yang bersifat teratur tampak bergerak dari kepala ke arah belakang
2. Cacing Trematoda dan cacing Cestoda dewasa tidak bergerak aktif namun pada umumnya menetap pada organ tubuh tertentu dari inang.
Cacing pipih belum memiliki alat pernafasan khusus. Pengambilan oksigen bagi anggota yang hidup bebas dilakukan secara difusi melalui permukaan tubuh. Sementara anggota yang hidup sebagai endoparasit bernapas secara an aerob karena cacing endoparasit hidup hidup pada lingkungan yang kekurangan oksigen.
1. Turbellaria memiliki sistem saluran pencernaan makanan yang terdiri dari : mulut, faring, usus, tanpa anus, kecuali pada cacing pita tidak dijumpai adanya intestine ( usus ). Hewan ini pada umumya merupakan hewan karnivora, makanannya berupa hewan kecil ( cacing, krustacea, siput dan potongan-potongan hewan mati ). Mula-mula makanan didekati, kemudian dilibas dengan cairan lendir yang dihasilkan oleh kelenjar muskus dan sel rhabdit. Makanan selanjutnya dimasukkan ke dalam faring. Di dalam faring, makanan dicampur dengan “ cairan digesif ”. Makanan dicerna oleh aktivitas cairan digestif dan adanya gerakan memompa dari faring. Setelah itu makanan ditelan. Pencernaan terjadi secara ekstraseluler dan intraseluler. Makanan yang sudah tercerna didistribusikan ke cabang-cabang alat pencernaan. Makanan yang tidak tercerna dikeluarkan oleh mulut.
2. Trematoda mempunyai alat digesti, tetapi tidak lengkap. Sistem pencernaan makanan terdiri dari mulut, faring, esophagus, dan intestine. Makanan anggota Trematoda bias berupa darah, sel-sel yang rusak, cairan empedu, dan cairan limfa. Pencernaan makanan terjadi di dalam rongga sekum, berarti pencernaannya berlangsung secara ekstraseluler. Sari makanan diserap oleh sel-sel parenkim dan di edarkan ke seluruh jaringan tubuh. Makanan yang tidak tercerna dimuntahkan melalui mulut.
3. Cestoda tidak mempunyai alat pencernaan. Makanan yang sudah berupa sari-sari makanan pada intestine inang diserap langsung melalui seluruh permukaan tubuh.
Cacing pipih tidak mempunyai sisitem sirkulasi khusus. Peredaran unsure-unsur makanan dan zat-zat lain berlangsung secara difusi dari sel ke sel.
Cacing pipih sudah memiliki alat ekskresi walaupun masih sangat sederhana.
1. Turbellaria memiliki alat ekskresi berupa system protonefridial yang tersusun oleh dua saluran longitudinal. Kedua saluran itu berhubungan dengan jaring-jaring pembuluh yang bercabang ke seluruh tubuh dan berakhir pada sel api yang berukuran besar.Sel-sel api itu berada diantara sel-sel tubuh yang lain. Sel-sel api mengumpulkan kelebihan air dan kotoran yang bersifat cair. Di dalam rongga sel api terdapat sekelompok silia yang dapat menggerakkan zat buangan kepembuluh-pembuluh yang terbuka pada permukaan tubuh ( nefridiofor ).
2. Pada Trematoda susunan system ekskresinya tidak berbeda dengan kelas Turbellaria, yaitu sama-sama ditemukan komponen sel api yang terbentuk dari protonefridia. Sel-sel api memiliki saluran-saluran yang menuju ke saluran pengumpul yang terdapat pada bagian ventral dan dorsal tubuh. Saluran pengumpul dorsal ada 2 dan saluran pengumpul ventral juga ada 2. keempat saluran pengumpul itu bermuara pada saluran pengeluaran yang memanjang sepanjang tubuhnya dan berakhir pada lubang pengeluaran yang terletak pada bagian posterior tubuh. Sel-sel api mengumpulkan bahan buangan dari sel-sel yang ada disekitarnya untuk disalurkan ke saluran pembuangan.
3. Pada Cestoda, terdapat 4 saluran ekskresi longitudinal. Dua saluran yang ada pada sisi dorsal membentang hanya pada bagian anterior strobilla. Dua saluran yang ada pada sisi ventral memanjang di seluruh permukaan tubuh. Keempat saluran itu bergabung satu sama lain melalui saluran cincin. Saluran dorsal mengumpulkan zat-zat ekskresi pada bagian kepala ( skoleks ) dan saluran ventral menyalurkan zat ekskresi menjauhi skoleks.
“ Otak ” terletak pada bagian kepala. Otak trsusun oleh ganglion-ganglion otak yang terdiri dari dua lobus. “Otak ” berfungsi sebagai pusat koordinasi bagi impuls-impuls saraf. Sistem saraf tersebut berbentuk tangga tali. Di dalam otak terdapat statokis. Statokis merupakan alat keseimbangan tubuh. Organ mata ( oselli ) merupakan dua bintik hitam bulat yang terletak pada permukaan dorsal kepala. Mata tersebut mempunyai “ mangkuk pigmen ”. Mulut mangkuk pigmen terbuka ke arah depan lateral. Pada mangkuk pigmen terdapat sel-sel retinal, yang berupa sel saraf bipolar yang ujungnya berhubungan dengan otak. Mata belum mampu membedakan rah cahaya dengan baik. Hewan ini bersifat fototaksis negatif dan kebanyakan aktif pada malam hari.
Cacing pipih berkembang biak secara seksual dan aseksual.
àsecara seksual : pertemuan gamet jantan dan gamet betina
àsecara aseksual : secara membelah. Pembelahan terjadi ketika cacing telah menncapai ukuran tubuh maksimum. Pada saat membelah, bagian posterior tubuh dilekatkan pada substrat secara kuat, kemudian bagian depan tubuh ditarik kea rah depan sehingga tubuhnya putus menjadi dua di belakang faring. Sisa tubuh bagian depan akan membetuk bagian ekor yang hilang dan bagian posterior tubuh yang terputus akan membentuk kepala baru.
1. Turbellaria à hidup di alam ( hidup di lingkungan berair )
2. Trematoda à hidup bersifat parasit yang membutuhkan inang untuk kelangsungan hidupnya. Cacing dewasanya hidup pada hewan vertebrata sebagai inang definitive, tetapi setiap jenis cacing mempunyai inang yang khas. Sementara larvanya ada yang hidup bebas dan ada yang hidup di dalam inang perantara berupa hewan-hewan avertebrata.
3. Cestoda à hidup bersifat parasit. Cacing dewasa dan larvanya hidup pada inang yang berbeda, tetapi semuanya termasuk hewan vertebrata.
D. KLASIFIKASI
Filum Platyhelminthes dibagi menjadi 3 kelas :
1. Kelas Turbellaria
Ciri-ciri:
a. cacing pipih yang hidup bebas, tidak bersifat parasit
b. epidermis bersilia dan terdapat banyak kelenjar lendir
c. tidak terdapat sucker ( alat pelekat atau alat penghisap )
d. mulut umumnya terdapat di bagian perut
e. hidup di air alut, di dalam air tawar atau di darat
f. contoh:
- Anaperus ( di air laut)
- Planaria ( di air tawar )
- Bipalium ( di darat, di tempat lembab )
- Convouta, Catenula dsb
2. Kelas Cestoda
Ciri-ciri:
a. tubuhnya pipih, kecil, panjang
b. mempunyai sucker
c. tubuh terdiri atas rantai proglotid ( pseudosegmen )
d. tiap-tiap proglotid telah dilengkapi alat reproduksi
e. kutikula tebal, tidak bersilia
f. tidak mempunyai mulut dan saluran oencernaan makanan
g. semua anggotanya hidup parasitis
h. contoh:
- Taenia
- Echinococus
- Moneizia
3. Kelas Trematoda
Ciri-ciri:
a. tubuhnya berbentuk seperti daun
b. kutikula tebal tanpa silia
c. mempunyai sucker terletak pada daerah perut
d. mulut di bagian depan
e. saluran pencernaan bercabang-cabang
f. semua anggotanya hidup parasitis
g. contoh:
- Fasciola
- Clonorchis
- Schistosoma
Sumber : ( Kastawi,2005:103-124)
( Suhardi, 1983:32-33 )
Daftar pustaka
Kastawi, Yusuf,dkk.2005. Zoologi Invertebrata.Malang:UM Press.
Suhardi.1983.Evolusi Avertebrata.Jakarta: UI.
Label:
platyhelmintes

0 komentar:
Posting Komentar